Minggu, 30 November 2014

Kopiah Batik dari Tuban Jawa-Timur

Kopiah Batik dari Tuban Jawa-TimurKali ini saya akan bercerita tentang kopiah yang telah saya produksi secara manual dengan ilmu yang telah Allah berikan kepada saya.
Bermula dari hobi saya dalam mengoleksi berbagai macam kopiah semenjak saya masih ada di Pesantren, kerap kali kopiah yang menjadi pilihan saya ternyata juga banyak diminati olah teman-teman saya. Diantaranya waktu itu ada penjahit yang mempunyai ide membuat kopiah dari kain perca atau kain kelebihan jahitan. Kain perca banyak sekali motifnya, sehingga saya memilih kain sesuai keinginan saya untuk dijadikan kopiah. Waktu itu ongkos pembuatannya adalah dua ribu rupiah. Akan tetapi karna penjahit itu memang tidak special membuat kopiah untuk diproduksi, akhirnya timbul di  benak hati saya bahwa bisnis kopiah batik kemungkinan menjadi prospek apabila dikembangkan.
Setelah saya menikah kebetulan sekali istri saya punya cita-cita menjadi penjahit tapi bukan kopiah melainkan pakaian. Setelah istri saya membeli mesin jahit bekas yang hargnya Rp. 400rb, saya meminta dia untuk melatih saya mengoperasionalkan mesin jahit tersebut dan akhirnya dalam tiga hari saya sudah dapat  menggunakannya. Dengan didorong kemauan kuat yang ada pada hati saya untuk dapt membuat sendiri kopiah dari kain perca, saya mencoba mendatangi para penjahit lokal didekat rumah saya untuk saya mintai tolong membuat kopiah bundar. Secara teori dasar, pembuatan kopiah bundar tersebut sudah jadi walaupun bentuk maupun jahitannya belum rapi. Lalu saya praktekkan dan saya kembangkan sendiri dirumah dengan kain seadanya. Alhamdulillah saya bisa. Secara tidak sengaja muncul di otak saya setelah melihat sarung bekas yang motif dan warnanya lumayan bagus, akhirnya mulai saya potong dan jahit menjadi satu kopiah, dan ternyata hasilnya nggak malu-maluin. Akhirnya saya nekat memotong semua kain sarung tersebut menjadi kopiah semua dan ternyata jadi 12 biji kopiah. Iseng-iseng saya menawarkan produk saya kepada toko kitab milik teman saya, karna ini barang baru maka uji coba saya berani ambil resiko untuk menitipkan barang dagangan saya dengan perjanjian kalau laku baru bayar, kalau nggak laku barang kembali. Ternyata selang beberapa hari teman saya mengirim sms kepada saya bahwa semua produk saya sudah habis. Alhamdulillah…!!!
Bersambung….!!!

Songkok Nasional Berwarna Hitam dari Gresik - Jawa Timur


Songkok Nasional Berwarna Hitam
Sejenis topi tradisional orang Melayu yaitu songkok yang disebut juga sebagai kopia atau peci. Di Indonesia songkok berwarna hitam terkenal dengan sebutan songkok nasional karna sejak digunakan oleh Bung Karno, songkok nasional ikut berperan dalam pergerakan nasional yaitu digunakan beliau sebagai atribut yang memiliki nilai wibawa dan juga merakyat. Songkok nasional bukan hanya dipakai untuk shalat saja akan tetapi pada acara-acara penting Negara saat ini rata-rata menggunakan songkok hitam tersebut. Apalagi kalau kita lihat Presiden kita saat ini Jokowi-Jk dalam fotonya juga menggunakan songkok nasional. Sudah selayaknya jika songkok hitam tersebut saat ini sudah menjadi bagian penting dalam busana nasional. Ternyata banyak pula orang non muslim yang telah ikut menggunakan songkok tersebut. Penutup kepala berciri khas hitam ini merupakan variasi dari Tharbusy atau Fes dari Maroko.
Tak heran jika saat ini produsen-produsen songkok hitam bersaing ketat dalam meningkatkan kualitas barang tersebut dengan menambahkan motif gambar dari border dan adapula langsung lukisan tangan dengan bahan dari karet. Diantaranya yang paling terkenal di Indonesia para pengrajin atau pembuat songkok nasional ada di Gresik Jawa Timur.
Dalam bahasa Inggris songkok dikenal istilah “Skull” artinya batok dan “Cap” artinya topi. Pada saat Inggris menjajah kawasan Melayu istilah skull cap ini mengalami perubahan (metamorfosa) dalam pengucapannya dari ucapan “skol-kep” menjadi “songkep” dan lama-kelamaan menjadi “songkok”. Istilah ini sudah popular sejak zaman dulu, akan tetapi mungkin di Indonesia agak jarang diucapkan, akan tetapi jika kita berkunjung di Malaisia maupun Brunai Darussalam, kata songkok ini masih sangat umum dipakai dalam keseharian.
Songkok nasional ini mungkin dari bentuknya agak berbeda dengan peci atau kopiah. Di Indonesia lazimnya sebutan songkok nasional yaitu berbentuk lonjong dan tebal yang dibuat dari bahan (jawa=bludru).
peci atau kopyah di Indonesia

Akan tetapi jika yang digunakan adalah sebutan peci atau kopiah secara umum maka bentuknya adalah setengah lingkaran yang terbuat dari kain atau bahan lain bahkan peci atau kopiah banyak yang bisa dilipat untuk memudahkan membawanya saat pergi. Adapula bahan yang digunakan membuat peci atau kopiah yaitu dari akar tanaman pohon tertentu, adapula dari kulit pohon bambu bahakan ada juga pengrajin yang membuat menggunakan kayu. Jika anda lihat rang-orang yang sudah menyandang titel Haji maka kopiah putih adalah pilihannya.

Sabtu, 29 November 2014

Peci Sebagai Sarana Untuk Menjaga Muru’ah

Peci Sebagai Sarana Untuk Menjaga Muru’ah

Peci pada dasarnya ada yang mengatakan diambil dari bahasa belanda Pet artinya topi dan Je artinya kecil, ada pula yang mengatakan berasal dari bahasa arab ‘keffieh’, ‘kaffiyeh’, atau ‘kufiya’.Secara historis peci dipopulerkan oleh Bung Karno sebagai atribut kebesarannya saat mempertahankan Indonesia dari kolonial belanda. Sehingga sampai saat ini peci hitam yang digunakan Bung Karno terkenal dengan sebutan songkok nasional karna memang waktu itu berperan penting dalam pergerakan nasional.
Peci disebut juga sebagai songkok dan ada pula yang menyebutnya kopiah.
Terlepas dari masalah peci, mari kita fokuskan pembahasan ini pada masalah muru’ah.
Muru’ah merupakan kata sifat yang diambil dari kata “Mar’u” yang artinya manusia atau orang. Muru’ah pada dasarnya adalah sifat yang melekat pada manusia, sehingga dapat menjadikan perbedaan antara manusi dengan hewan. Imam Mawardi sebagai toko besar Islam dalam hal ini menjelaskan bahwa Muru’ah adalah  Menjaga kepribadian atau akhlak yang paling utama sehingga tidak kelihatan pada diri seseorang sesuatu yang buruk atau hina.
Peci Sebagai Sarana Untuk Menjaga Muru’ahPeci merupakan benda yang kelihatannya murah di pasaran, tapi sebenarnya mengandung nilai akhlak atau etika yang tinggi dalam berbusana. Contoh yang paling popular adalah Bung Karno sendiri. Selain itu semua Kyai dan ustadz yang kita jumpai mayoritas dalam keseharian bahkan acara tertentu tidak pernah melepaskan benda tersebut dari kepala. Dalam Islam pun juga sangat menganjurkan orang untuk selalu mengenakan penutup kepala diantaranya adalah peci tersebut. Apalagi ketika kita melakukan ibadah shalat seakan-akan merupakan sesuatu yang sudah semestinya dipakai mengingat adab kita sebagai seorang hamba yang sedang menghadap Tuhan semesta alam, walaupun secara hukum fiqh tidak ada kewajiban memakai peci.
Secara testimoni coba anda perhatikan orang di sekitar anda antara yang mengenakan peci dan yang tidak mengenakannya akan nampak perbedaan dalam wibawa. Apalagi tidak memakai peci malah rambut acak-acakan bahkan di semir. Dalam hal ini peci digunakan pria yang fungsinya memiliki kemiripan dengan jilbab dalam segi adab.
Berbagai macam jenis peci telah beredar banyak di pasaran, anda dapat membelinya susuai dengan motif yang anda sukai.
Peci selain kita gunakan sebagai sarana untuk menjaga muru’ah dan tentunya dapat juga menutup sebagian pintu setan untuk menggoda kita.

Rabu, 26 November 2014

Sejarah Peci di Indonesia sejak Zaman Dulu

Sejarah Peci di Indonesia dari Zaman Dulu

Sejarah peci yang menyebar sejak zaman dulu di seluruh Indonesia

MUSLIM di Indonesia telah popular dengan benda yang dikenakan di kepala ketika sedang melakukan ibadah sholat maupun acara-acara tertentu seperti kenduren dan lain-lain. Apalagi namanya kalau bukan peci atau orang disebut juga songkok. Demikianlah orang Indonesia menyebutnya bermula diambil dari kata Pet artinya topi dan Je artinya kecil yang diambil dari bahasa orang Belanda saat bangsa ini masih terjajah olehnya.
Sejarah peci ikut mewarnai pergerakan nasional bangsa yang dalam hal ini Bung Karno termasuk salah satunya sehingga saat ini orang menyebutnya sebagai songkok nasional. Sejak dulu Bapak Proklamator Indonesia Ir. Soekarno tampil berwibawa dalam berbusana terlebih pada atribut kebesarannya. Dalam segala kondisi dan situasi beliau berupaya menggunakan pakaian yang menjadi ciri khas, diantaranya peci atau songkok nasional yang berwarna hitam. Dengan itu beliau tampil penuh wibawa dan memiliki identitas secara khusus, bahkan ketika melakukan kunjungan Internasional ke beberapa Negara beliau tidak pernah meninggalkan atribut layaknya mahkota.
Bermula dari itulah peci hitam akhirnya menyebar di seluruh Indonesia dan menjadi sejarah peci di Indonesia dari zaman dulu. Sampai saat ini trede mark peci anak bangsa tidak lain adalah peci hitam walaupun telah banyak beredar banyak jenis, macam dan merk peci yang telah menyebar di Indonesia. Pada abad ke-13 sudah ada yang memperkirakan bahwa sejarah peci ini berawal ketika para pedagang Arab masuk ke Semenanjung Malaisia dengan mengenakan peci tapi tidak berwarna hitam. Hingga saat ini bukan hanya Indonesia yang menggunakan peci, akan tetapi telah membudaya di berbagai Negara seperti Malaisia, Brunai Darussalam, Singapura dan beberapa wilayah lain di Negara Thailan, Filipina dan lain sebagainya.